Jejak Mapala

Ketika Mapala Menggugat, Omnibus Law Bukti Kebobrokan Semangat Konservasi, Harus Batal

By  | 

Penarimba.com – Mapala menggugat. Ratusan mahasiswa pecinta alam (Mapala) menggelar demo di depan gerbang Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (15/7/2020).

Aksi damai para mahasiswa yang berasal dari puluhan organisasi kampus di kawasan Jabodetabek tersebut digelar dengan cara unik.

Mereka menuntut pemerintah, baik DPR maupun eksekutif, membatalkan sejumlah pasal pada Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law Cipta Kerja.

Pasal-pasal yang diselipkan pada sejumlah undang-undang tersebut dinilai ancaman terhadap kelestarian lingkungan, bahkan berpotensi meluluhlantakannya.

Sebagai bentuk protes, para penggiat konservasi menggelar camping ceria di depan gedung rakyat. Tak hanya itu, mereka juga membawa sejumlah poster yang mencerminkan ketidaksepakatan terhadap RUU Omnibus Law.

Melalui pernyataan tertulis yang diterima Penarimba.com, koordinator aksi Herdy dari Wapalapa Universitas Pakuan Bogor mengatakan bahwa sejumlah poin pada pasal Undang-Undang Kehutanan serta Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sangat kontra dengan tujuan konservasi di Indonesia.

Rancangan produk hukum tersebut menggambarkan kebobrokan semangat negara dalam menjaga kelestarian lingkungan di negeri sendiri.

Selain membatalkan RUU Omnibus Law Cipta Kerja, mahasiswa juga meminta agar pemerintah tidak cenderung melayani pihak korporasi secara berlebihan.

“Stop korbankan alam untuk keuntungan oligarki,” tuntut mereka.

Mapala menggelar demo

Sejumlah Mapala menggelar demo di luar pagar Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (15/7/2020). (Foto: istimewa)

Menurut Herdy, ada beberapa poin pada rancangan undang-undang Omnibus Law yang dianggap akan memperparah praktik eksploitasi terhadap lingkungan.

Mereka menganggap rancangan undang-undang tersebut terlalu mementingkan bisnis.

Di antara sederet pasal itu adalah Pasal 18 Undang-Undang Kehutanan tentang batas minimum 30 persen luas kawasan hutan.

Mereka juga mengkritisi Pasal 49 pada undang-undang yang sama, yakni sanksi terhadap korporasi yang terlibat kasus pembakaran hutan.

Kemudian sejumlah pasal dalam Undang Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Terdapat aturan ngawur yang tertera pada sederet pasal tentang Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) serta Izin Lingkungan.

Semua poin di atas bertentangan tentang visi konservasi lingkungan yang diusung Mapala.

“RUU Cilaka ini dinilai tidak selaras dengan kode etik pecinta alam yang selama ini dipegang teguh oleh kawan-kawan Mapala dan Pecinta Alam lainnya,” ujar Herdy.

Mapala mengelar demo

Sejumlah Mapala menggelar demo di luar pagar Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (15/7/2020). (Foto: istimewa)

Setelah beberapa jam menggelar aksi, tidak satu pun anggota dewan yang keluar gedung untuk mendengar tuntutan ini.

 

RENCANA MAPALA MENGGELAR DEMO SERUPA

Menurut anggota aksi lainnya, Toproj dari Marpala Universitas Bung Karno, aksi serupa rencananya akan berlanjut pada Kamis (16/7/2020).

“Besok anak-anak rencananya mau turun lagi. Peserta hari ini ada sekitar 106 orang dari 36 lembaga,” ujar Toproj kepada Penarimba.com.

Seperti diketahui, RUU Omnibus Law mendulang protes keras dari sejumlah elemen masyarakat.

Sederet pasal pada undang-undang tersebut dinilai bukan hanya berpotensi merusak lingkungan, namun juga merugikan nasib buruh.

(ZA)

Zulfikar Ali

Mengambil jurusan sistem informasi pada satu perguruan tinggi di Medan, Sumatera Utara. Menyukai gemuruh yang keluar dari sela-sela lubang sulfur di kawah gunung. Penulis juga dikenal konsisten menyuarakan gerakan berdoa sebelum tidur.

3 Comments

  1. Avatar

    Rahmad Srg

    Juli 16, 2020 at 1:28 am

    Samangat Kawan salam panjang umur perjuangan…..

    Lestareee

  2. Avatar

    Rahmat

    Juli 16, 2020 at 7:53 pm

    Semangat

    • Avatar

      Aditya syahputra

      Juli 17, 2020 at 1:15 am

      Teruskan para pahlawan konservasi,jangan biarkan semua itu terjadi apalagi di jadikan ajang bisnis para penguasa..
      Salam lestari,salam konservasi..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *