Jejak Mapala

Mengenang Joe Brown, Pendaki Pertama Puncak Kanchenjunga Itu Pernah Alami Kebutaan di Atas Gunung

By  | 

Penarimba.com – Lelaki itu terlahir dengan nama Joseph Brown, legenda dunia panjat tebing dan pendakian gunung asal Britania Raya.

Setelah puluhan tahun menginspirasi banyak orang, Joe Brown meninggal dunia di rumahnya yang berada di Llanberis, desa yang terletak di barat laut Wales.

Joe menghembuskan nafas terakhir pada Rabu (15/4/2020) lalu pada usia menginjak 89 tahun.

Berita kepergiannya banyak ditangisi sejumlah orang. Khususnya para pecinta petualangan alam bebas.

Joe Brown kini memang telah pergi, namun petualangannya akan abadi.

Joe lahir di Ardwick, Manchester, Inggris, pada 26 September 1930. Joe merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara.

Ayahnya merupakan seorang pelaut. Ia meninggal saat Joe masih berusia delapan bulan pada 1931 silam.

Kepergian sang ayah membuat ibu Joe terpaksa memenuhi kebutuhan hidup dengan bekerja sebagai buruh kebersihan.

Pada 1957, Joe menikahi Valerie Grey dan kini dikaruniai dua orang anak.

Nama Joe semakin mendunia lantaran memperoleh gelar Commander of the Order of the British Empire (CBE) pada 2011 lalu untuk kontribusinya di dunia panjat tebing dan pendakian gunung.

CBE merupakan gelar bintang kehormatan kekaisaran Britania Raya.

Joe memang kaya akan pengalaman di dunia panjat tebing serta pendakian gunung. Ia pernah mencatatkan sejarah sebagai perintis sejumlah jalur pendakian yang sangat ekstrem.

Namun, satu di antara yang paling tak terlupakan adalah petualangannya merintis jalur pendakian Puncak Kanchenjunga, Pegunungan Himalaya.

The Human Fly, julukannya. Joe mencatatkan diri sebagai manusia pertama yang mencapai puncak tertinggi ketiga di dunia itu pada tahun 1955, ketika berusia menginjak 25 tahun.

Kala itu, Joe bermitra dengan rekannya, George Band. Pendakian ini sekaligus menjadi prestasi terbesar yang pernah mereka torehkan.

Penarimba.com akan kembali mengulik sepenggal kisah yang belum banyak diketahui tentang pengalaman Joe Brown, pendaki pertama Puncak Kanchenjunga.

Pada November 2012, Joe naik ke panggung Royal Geographical Society untuk menceritakan kisahnya itu.

Dikutip dari LFTO.com yang melansir ulang wawancara Trail Magazine, Joe mendapat tawaran dari tim ekspedisi Inggris untuk melakukan pendakian ke Puncak Kanchenjunga pada akhir 1954.

Karena kerumitan dan kedekatannya dengan angin muson, banyak di antara para pendaki, termasuk Reinhold Messner, menganggapnya lebih sulit daripada puncak K2.

“Pada bulan Oktober, saya mendapat telegram dari (pemimpin tim) Charles Evans, dan isinya: Undangan untuk bergabung dengan ekspedisi. Itu seperti memenangkan lotre,” katanya.

“Saya tahu cara memanjat dan mengamankan diri di gunung. Tapi saya tidak menganggap diri saya sebagai seorang alpinist yang berpengalaman. Dipilih hanya dengan dua musim … Saya hanya ingat berpikir ini akan sangat luar biasa.”

Joe mengatakan, ekspedisi ke Puncak Kanchenjunga dibuat oleh para pendaki ekspedisi Everest pada 1953.

Mereka adalah George Band, Jack Jackson, Tom Bourdillon dan Charles Evans.

Joe mengatakan, terdapat kesenjangan latar belakangan di antara mereka.

Ketua tim ekspedisi, Charles Evans, merupakan seorang ahli bedah otak.

“Saya mengunjungi Charles di rumah sakit Liverpool. Dia menunjukkan kepada saya alat bedahnya dan berkata: Anda mungkin menggunakan alat yang sama untuk memotong batu seperti yang saya lakukan untuk mengiris tulang,” ujar Joe menirukan perkataan Charles.

“Saya mengambil salah satu alat bedahnya dan berkata: Kamu bercanda, alat milikku akan melakukan pekerjaan yang jauh lebih baik daripada ini!” sambungnya.

Pendaki pertama puncak gunung tertinggi ketika di dunia

Joe Brown, pendaki pertama Puncak Kanchenjunga. (Foto: ANL / Rex)

Singkat cerita, tim ini menuju India dengan perahu lambat dan menuju menuju Bombay, lalu Kanchenjunga.

“Kamp 1 dibuat di ujung ceruk raksasa. Saya pernah berjalan di celah ini mencari situs rawa, dan di sana di depan saya ada lubang besar,” kata Joe.

“Melalui itu, saya melihat salju menggantung dan menyadari bahwa saya berdiri di atas salju yang tergantung di sisi saya. Rambut saya berdiri, saya mencoba berjalan kembali tanpa berat badan. Tidak ada orang lain yang pergi ke sana,” sambungnya sembari tertawa.

Selama berminggu-minggu di kamp, Charles melihat Joe menunjukkan keuletan dan kemampuan untuk tampil baik di ketinggian.

Dia kemudian mengumumkan bahwa Joe dan George Band, yang saat itu berusia 27 tahun, akan menjadi yang pertama pergi ke puncak.

Sedangkan Norman Hardie dan Tony Streather akan menjadi pendaki cadangan.

Cuaca badai dan longsor terjadi ketika kedua pendaki itu berada di Kamp 6. Hal itu membuat mereka harus menggali.

“Tenda yang kami gunakan di kamp teratas hanya memiliki ruang di langkan untuk dua pertiga dari landasannya; sisanya menggantung di langkan. Jadi yang kami miliki adalah dua pertiga dari tenda kapasitas dua orang,” katanya.

Berada di kamp yang dingin adalah satu-satunya momen yang diingat Joe pada ekspedisi ini.

“George dan saya turun dari tenda untuk menghidupkan atau mematikan botol oksigen. Itu memang hanya sebuah tombol, tetapi pakaian tangan kami adalah sutra, wol dan sarung tangan duvet,” kata Joe.

Demi mengamankan tabung oksigen mereka, Joe dan George harus rela melepaskan sarung tangan duvetnya. Bahkan George juga harus melepas sarung tangan wol.

Konsekuensi yang akan diterima Joe saat itu adalah tidak bisa merasakan jari-jarinya selama sebulan.

Sedangkan George merasakan setiap jarinya melepuh. Hal itu menyebabkannya tidak bisa memegang hidung.

“Anda mungkin tertawa, tetapi di ketinggian Anda akan begitu tersendat … Anda selalu punya booglies dan hal-hal lain yang ingin Anda singkirkan!” kata Joe.

Hari berikutnya, pasangan itu berangkat menuju puncak. Joe cukup gembira karena kemudian mereka akan memanjat tebing.

“Saya memanjat batu sebisa mungkin karena itu menyenangkan untuk dilakukan, mungkin sedikit lebih sulit daripada Crib Goch, tetapi tidak banyak,” kata Joe.

Joe Brown pendaki pertama puncak Kangchenjunga

Celah tebing yang dilalui Joe Brown untuk mencapai Puncak Kanchenjunga. (Foto: Royal Geographical Society)

George saat itu masih berjalan di atas salju. Ia menaiki tangga untuk turun.

Kemudian, apa yang disebut Joe sebagai tour de force terjadi, ketika potongan-potongan tebing dan bakat ketinggiannya akan beradu dengan gaya yang bagus.

“Aku memulai selokan bersalju ini dengan wajah batu di satu sisi. Ada beberapa waktu istirahat di dalamnya, dan saya hanya memilih sekali saja. Itu tentang V Diff, yang di permukaan laut bukan apa-apa, tapi di ketinggian … apa pun yang harus kau tarik di lenganmu perlu dipikirkan dengan cermat,” kata Joe.

Joe menceritakan, saat itu aliran oksigen normal sekitar dua liter per menit. Tapi dia dapat mengaturnya hingga delapan liter per menit.

Setelah melalui berbagai rintangan, Joe akhirnya mencapai tujuan. Ia pun dinobatkan sebagai pendaki pertama Puncak Kanchenjunga.

“Dengan keuntungan aklimatisasi, saya bisa tampil sebaik mungkin. Saya naik ke atas celah ini, dan di sanalah puncak itu. Saya berteriak kepada George, ‘kita sampai'” kata Joe.

Joe Brown, pendaki pertama puncak Kangchenjunga

Joe Brown saat berada di Puncak Kanchenjunga. (Foto: George Band / Royal Geographical Society)

Pendaki lain, Doug Scott memuji kisah Joe. Ia menyebutnya ‘hand’s jamming di ketinggian 8500 m’. Menurut Doug, pendakian ini menjadi inspirasinya semasa kecil.

Hari berikutnya, Hardie dan Streather menemukan lereng salju lebih jauh di atas jurang, yang menurut Joe akan dilaluinya jika dia tahu.

“Tidak pernah ada pendakian kedua,” kata Joe tersenyum.

George dan Joe berhenti beberapa meter dari puncak untuk menghormati ‘Puncak Suci’ Sikkim.

Bagi Joe, berdiri di atas puncak gunung tidak berarti apa-apa. Dia mendaki gunung untuk kesenangan memanjat. Kesenangan berada di puncak.

“Anda telah berada di sana, Anda telah melakukannya, Anda tidak perlu menancapkan bendera. Kami tidak memiliki bendera karena langka di masa itu. Itu tidak terjadi pada kami. Di mana Anda melihat dalam gambar: di situlah kami berhenti,” ujar Joe.

Joe menambahkan, ia sempat mengalami insiden saat akan turun dari puncak. Tiba-tiba, terdapat sobekan pada perlengkapan yang dipakainya.

“Kacamata (salju) saya terus berkabut, jadi saya akan mendorongnya (membuka) ke atas kepala saya,” kata Joe.

Mengetahui hal itu, George langsung berteriak dan menyuruh Joe agar tetap mengenakan kacamata.

“Pada saat kami turun ke tenda, mataku tertusuk: timbulnya kebutaan salju. Rasanya seperti mata Anda dipenuhi abu panas. Mengalir dengan air, Anda kesakitan luar biasa dan Anda benar-benar buta,” kata Joe.

Norman dan Tony telah tiba di kemah, dan pada saat-saat terakhir, Joe dan George tidak bisa turun lebih jauh. Penglihatan Joe kembali normal beberapa hari kemudian.

“Jadi sekarang kami berempat di dua pertiga dari tenda kapasitas dua orang ini, dengan saya di tengah bergerak kesakitan sepanjang malam. Pagi berikutnya, rasanya seperti mataku terpejam. George harus meletakkan saya di tali pendek,” tutur Joe.

  Joe Brown, pendaki pertama puncak Kangchenjunga. (Foto: Simon Ingram / Trail Magazine)


Joe Brown, pendaki pertama Puncak Kanchenjunga. (Foto: Simon Ingram / Trail Magazine)

Joe kini telah pergi. Pendaki pertama Puncak Kanchenjunga itu meninggalkan kita dengan segudang kisah inspiratif. Semoga saja akan lahir Joe-Joe tangguh lainnya di kemudian hari.

(SM/MN)

Sandy Saputra Marpaung

Saat ini sedang sibuk berdamai dengan pikirannya. Sebelum negara api menyerang, penulis sempat mengenyam pendidikan di Departemen Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU). Selama kuliah ia juga aktif dalam organisasi Gemapala FIB USU.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *