Obrolan Tenda

Pemerintah Harus Ingat Tragedi Love Canal Sebelum Hapus Aturan Izin Lingkungan Demi Investasi

By  | 

Penarimba.com – Pemerintah telah menyerahkan draf Rancangan Undang-undang (RUU) Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja kepada DPR pada Februari 2020 lalu.

RUU yang awalnya disingkat Cilaka itu, kini sudah diubah menjadi Cipta Kerja. Kata “Lapangan” dihilangkan sehingga kini disingkat menjadi Ciptaker.

Rancangan tersebut diprotes keras akibat sejumlah pasal “ngawur” yang diprediksi bakal merugikan buruh dan juga berpotensi membahayakan lingkungan.

Peraturan mengenai izin lingkungan dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) didesain sedemikian rupa sehingga terkesan lebih mementingkan investasi ketimbang segi perlindungan lingkungan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, seperti dikutip dari berbagai sumber, telah menyatakan bantahan bahwa modifikasi peraturan tersebut akan membahayakan kondisi lingkungan ke depannya.

Terlepas dari bantahan yang semoga saja benar tersebut, pemerintah harus diingatkan kembali dan berkaca dengan tragedi memilukan yang pernah terjadi di Amerika Serikat pada 1970-an.

Harapannya, rancangan peraturan baru tentang perizinan yang berkaitan dengan sektor lingkungan tersebut tidak akan menjadi bom waktu, sehingga apa yang pernah terjadi di negeri Paman Sam tidak akan terulang di Indonesia.

Love Canal Tragedy atau Tragedi Love Canal, begitulah orang mengingatnya. Peristiwa kelam itu tercatat sebagai satu di antara bencana lingkungan terburuk sepanjang masa di Amerika Serikat.

Penyebabnya tak lain adalah kajian dampak lingkungan yang dilakukan secara serampangan.

Kata “Love” diambil dari nama seorang pengusaha bernama William T. Love.

Dikutip dari archive.eva.gov, William memulai proyek ambisius areal hunian di tepi Danau Ontario, Ujung Timur Air Terjun Niagara, New York, Amerika Serikat pada 1890 silam.

Untuk mendukung asupan listrik di areal hunian itu, William coba memanfaatkan aliran Sungai Niagara sebagai pembangkit listrik.

Caranya, suatu kanal pendek dibangun antara hulu dan hilir sungai. Arus deras sungai diharapkan mampu membangkitkan mesin generator sehingga menghasilkan listrik.

Proyek William sebenarnya mendapatkan dukungan kala itu. Namun, kondisi perekonomian Amerika Serikat saat itu sedang tidak stabil.

Kemudian, seorang ilmuan bernama Nicolas Tesla baru sana mengumunkan temuannya tentang transmisi listrik yang lebih ekonomis.

William pun terpaksa merelakan proyek impiannya itu pupus dan akhirnya mangkrak pada 1910.

Proyek itu dihentikan dan menyisakan sebuah kanal yang kemudian dikenal dengan julukam Love Canal.

Sepuluh tahun berlalu, sekitar 1920-an, sisa-sisa proyek William berupa kanal tersebut dimanfaatkan menjadi tempat pembuangan limbah kota dan limbah industri.

Pada akhir 1940, suatu perusahaan industri kimia bernama Hooker Chemical Company, mencari-cari lahan untuk pembuangan limbah mereka.

Setelah proses yang panjang dan akhirnya memeroleh izin dari pihak Niagara Power and Development Company, perusahaan tersebut mulai menggunakan kanal tersebut.

Selama sepuluh tahun Love Canal akhirnya beralihfungsi menjadi tempat pembuangan limbah kimia. Namun setelah pihak pengelola berubah pikiran, Hooker Chemical Company pun akhirnya berhenti beroperasi membuang limbah ke kanal tersebut dan menutupnya.

Ternyata, pemberhentian terhadap perusahaan tersebut dilakukan karena adanya rencana pembangunan oleh pemerintah setempat.

Laman: 1 2 3

Teguh Ade Kaisa

Alumni Departemen Pariwisata Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU). Mencintai musik, hutan dan tentunya istri sendiri. Aktif sebagai anggota Gemapala FIB USU selama mengenyam pendidikan di kampus.

1 Comment

  1. Avatar

    Josep Wesley

    Juni 29, 2020 at 10:26 pm

    Demi investasi lingkungan rusak. Kacau!!!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *