Obrolan Tenda

Tentang Burung Enggang, Petani Hutan yang Dibunuh Karena Keistimewaannya

By  | 

Penarimba.com – Burung enggang (Bucerotidae) atau rangkong merupakan jenis burung yang sangat unik sekaligus langka.

Burung ini punya ciri khas tersendiri. Di bagian kepalanya, terdapat paruh besar yang pangkalnya terlihat menyerupai mahkota atau tanduk.

Bukan hanya fisiknya yang menarik, enggang juga memberi kontribusi besar untuk kelestarian hutan.

Burung ini mampu terbang jauh dan suka menjelajah hutan. Kotorannya berperan menebar benih tumbuh-tumbuhan.

Enggang juga menjadi indikator kelestarian hutan karena hobinya hinggap di pucuk pohon tinggi.

Karena berbagai kontribusinya itu, enggang juga dijuluki Petani Hutan.

Untuk sebagian orang, enggang juga bukan satwa sembarang. Enggang adalah burung sakral bagi Suku Dayak di Kalimantan.

Burung enggang

Burung enggang. (Foto: bbksdajatim.org)

Burung ini dianggap simbol kesucian, kekuasaan dan kekuatan. Enggang juga tak lepas dari ritual adat mereka.

Di samping itu, masyarakat Dayak juga percaya bahwa enggang adalah jelmaan Panglima Burung, sosok gaib yang telah melegenda.

Keistimewaan enggang bukan hanya berarti bagi Suku Dayak. Sekelompok masyarakat di Jawa juga punya hubungan tersendiri dengan burung tersebut.

Pada beberapa situs candi, seperti Candi Prambanan, terdapat ukiran enggang.

Hal ini menunjukkan adanya catatan panjang enggang dan masyarakat setempat sejak dulu.

Dilansir dari laman profauna.net, terdapat 62 spesies enggang yang telah teridentifikasi tersebar di wilayah Asia dan Afrika.

Berdasarkan data itu, 32 jenis di antaranya berhabitat di kawasan Asia. Setengahnya ada di Indonesia, seperti di Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Papua.

Beberapa jenis endemik adalah Julang Sumba (Rhyticeros everetti), Julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix) dan Kangkareng Sulawesi (Rhabdotorrhinus exarhatus).

Di Sumatera Utara, jenis enggang yang dapat ditemui adalah Enggang Papan (Buceros bicornis), habitatnya terdapat di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Dengan segala keunikannya, enggang justru masuk dalam daftar favorit pemburu. Ditambah degradasi habitat yang masif, enggang kini berada di ujung kepunahan.

Kendati telah dilindungi undang-undang, jumlah satwa ini cenderung menurun.

Paruhnya menjadi komoditas tersendiri dalam praktik perdagangan liar.

Seperti diketahui, enggang telah masuk dalam daftar satwa dilindungi sesuai Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

(DG)

Dian Gunawan

Meyakini teori bahwa semua spesies berasal dari laut. Penulis merupakan mantan Ketua Ikatan Mahasiswa Pariwisata Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU). Semasa kuliah aktif di organisasi Gemapala FIB USU dan sempat terobsesi mendalami ilmu tidak bernafas selama 50 detik.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *