Obrolan Tenda

Tuntutan Kami Masih Sama, Masukkan Pelajaran Lingkungan Hidup dalam Kurikulum Pendidikan Indonesia

By  | 

Penarimba.com – Seperti biasa, dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup atau World Environment Day tiap tanggal 5 Juni.

Namun pada tahun ini, sesuatu terjadi sehingga membuat peringatan tersebut terasa berbeda.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia kali ini berlangsung dengan dihantui wabah Coronavirus Disease 19 (Covid-19).

Sejak diketahui akhir tahun lalu, sampai sekarang belum ada formula penyembuhan efektif yang diumumkan ke publik melainkan sekadar imbauan yang bersifat pencegahan.

Bahkan, umat manusia seolah digiring untuk hanya bisa menunggu kedatangan vaksin ciptaan para kapitalis.

Situasi di beberapa negara menunjukkan keberhasilan menekan laju wabah. Namun sebagian besar masih kewalahan.

Jika menilik lebih jauh ke belakangan, situasi yang terjadi saat ini punya kemiripan ketika pertama kali peringatan hari internasional itu digaungkan.

Sejarah mencatat bahwa Hari Lingkungan Hidup Sedunia disepakati pada konferensi Stockholm, Swedia, pada 1972 silam. Konferensi itu merupakan yang perdana dilakukan PBB untuk membahas isu lingkungan hidup manusia.

Ada dua negara yang memprakarsai, yaitu Senegal dan Jepang.

Usulan tersebut disampaikan karena berbagai alasan. Di antaranya bencana kabut asap, kebakaran hutan hingga dampak lain yang disebabkan keserakahan sekelompok manusia mengeksploitasi bumi tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan.

Negara-negara yang bergabung dalam konferensi itu, termasuk Indonesia, akhirnya sepakat untuk melakukan upaya perlindungan terhadap lingkungan hidup secara global.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Konferensi Stockholm, Swedia, pada 1972. Satu di antara hasil konferensi ini adalah menetapkan Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. (Foto: UN Photo/Yutaka Nagata)

Namun, perlu diketahui bahwa satu di antara negara pencetus sekaligus yang menunjukkan dominasi besar di Asia, yakni Jepang, kala itu juga sedang dilanda bencana kesehatan.

Negeri Samurai mengalami musibah akibat limbah beracun yang tidak dikelola secara benar.

Dunia mengingatnya sebagai Tragedi Minamata. Tragedi ini terjadi lantaran pencemaran laut.

Pada 1932, perusahaan industri baterai PT Chisso membuang limbah beracun yang mengandung zat mercuri ke Teluk Minamata, Jepang.

Tak tanggung-tanggung, limbah yang dibuang perusahaan itu diperkirakan mencapai 200 hingga 600 ton Hg.

Dampak praktik kesemena-menaan ini mulai muncul puluhan tahun berikutnya. Sekitar ratusan hingga ribuan orang akhirnya meninggal akibat terkontaminasi merkuri dari ikan yang mereka konsumsi.

Tak hanya itu, sejumlah orang juga mengalami kelainan fisik yang mengerikan.

Junichiro Koizumi, Perdana Menteri Jepang yang menjabat sejak 2001 hingga 2006, pernah menyampaikan permintaan maaf resmi atas kegagalan negara menangani penyakit Minamata dengan baik.

“Pemerintah merasakan tanggung jawab yang mendalam dan menawarkan permintaan maaf yang jujur ​​karena gagal mengambil langkah yang tepat untuk jangka waktu yang lama atau untuk mencegah penyebaran penyakit Minamata,” ujar pernyataan Koizumi yang dibacakan oleh Sekretaris Kabinet Shinzo Abe, dikutip dari japantimes.co.jp pada 29 April 2006.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Seorang ibu menggendong anaknya yang terpapar mercuri akibat Tragedi Minamata. (Foto: AP)

Penyakit Minamata atau Sindrom Minamata adalah kelainan fungsi saraf yang disebabkan keracunan merkuri.

Gejala awalnya seperti kesemutan, lemas, penyempitan sudut pandang, degradasi kemampuan berbicara serta pendengaran.

Penyakit ini bisa semakin memburuk dan menimbulkan kelumpuhan, cacat, kegilaan, koma hingga kematian.

Kini, dunia seolah kembali dihantui wabah yang tak kalah menakutkan. Namanya Covid 19 atau SARS-Cov-2.

Jika Tragedi Minamata terjadi akibat manusia mengonsumsi ikan yang terkontaminasi mercuri, bencana Covid-19 diduga melanda akibat manusia mengonsumsi hewan yang secara umum bukan untuk dikonsumsi.

Sebagian orang memang masih meragukan penelitian yang menyebut virus ini berawal dari daging hewan-hewan seperti kelelawar atau trenggiling.

Ada yang berspekulasi bahwa virus ini sengaja diciptakan sekelompok manusia untuk kepentingan tertentu. Bukan hanya uang.

Terlepas dari hal itu, sudah sepatutnya umat manusia menjadikan dua bencana kesehatan ini sebagai refleksi untuk lebih menghargai lingkungan.

 

HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA TAHUN 2020 USUNG TEMA BIODIVERSITY

Kembali tentang Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Pada tahun 2020 ini, United Nations Environment Programme (UNEP) mengusung tema biodiversity atau keanekaragaman hayati.

Jika berbicara mengenai keanekaragaman hayati, Indonesia menyampaikan kabar baik tentang penemuan sejumlah spesies baru-baru ini.

Mulai dari Kadal Hidung Tanduk (Harpesaurus modiglianii Vinciguerra) yang sejak ratusan tahun tidak pernah ditemukan lagi, kemudian pendeskripsian katak mini jenis baru asal selatan Pulau Sumatra bernama Micryletta sumatrana hingga tokek endemik penghuni Pulau Bali, Cyrtodactylus jatnai.

Namun, jika ditelaah lebih dalam, penemuan berbagai spesies tersebut masih tidak sebanding dengan jumlah peristiwa menyayat hati yang terus-terusan berlangsung di negeri ini.

Sejak awal 2020, terhitung sudah puluhan satwa terancam punah endemik Indonesia yang mati akibat ulah tangan-tangan bejat.

Mulai dari Gajah Sumatera yang mati akibat perburuan gading ataupun dianggap hama hingga nyawa Harimau Sumatera yang melayang sia-sia akibat jerat.

Faktanya, banyak di antara gajah dan harimau tersebut yang mati di sekitar areal atau kawasan perkebunan.

Kado pahit dari Indonesia untuk Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional Tahun 2020

Seekor Harimau Sumatera mati dijerat pemburu di areal konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Arara Abadi, Desa Minas Barat, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak, Riau, Senin (18/5/2020). (Foto: istimewa)

Tak sampai di situ, konflik antara satwa buas dilindungi dengan manusia juga belum dapat ditekan.

Peristiwa lainnya adalah fenomena kemunculan Harimau Sumatera yang keluar dari area hutan lindung untuk menerkam hewan ternak milik warga.

Di Langkat, Sumatera Utara, sejak April hingga Mei 2020 lalu, sudah terjadi lima kasus penerkaman harimau di luar kawasan hutan lindung.

Tidak hanya sapi, seorang warga yang sedang berladang juga tewas akibat serangan ini.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah V Bohorok BBTNGL Palber Turnip berpendapat bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan intensitas penerkaman Harimau Sumatera terhadap hewan ternak milik warga meningkat belakangan ini.

Satu di antara yang tidak bisa dipungkiri adalah alih fungsi kawasan hutan menjadi lahan perkebunan.

Di sisi lain, penerkaman juga terjadi akibat hewan ternak dilepas begitu saja oleh pemiliknya tanpa dikandangkan.

“Sebenarnya lokasi serangan itu masih kawasan hutan yang menjadi wilayah jelajah (range) Harimau Sumatera, faktanya sudah berubah menjadi kebun dan ladang,” kata Palber kepada Penarimba.com via WhatsApp.

Kepala Seksi Wilayah II Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Utara Herbert Aritonang juga berpendapat bahwa kerusakan hutan menjadi faktor yang menyebabkan satwa terancam punah itu keluar mencari mangsa ke kawasan perkebunan.

“Ada kemungkinan kerusakan hutan (habitat),” kata Herbert dikutip dari IDN Times Sumut.

Selain faktor kerusakan habitat, penerkaman terhadap hewan ternak juga bisa terjadi karena harimau tersebut sedang sakit sehingga tidak mampu berburu di dalam hutan.

Di samping itu, fenomena ini juga bisa disebabkan karena kuantitas mangsa buruan, seperti babi hutan, rusa, kancil dan hewan lainnya, telah menyusut.

Herbert menambahkan, pihaknya juga menemukan seling besi di dalam hutan. Artinya, terdapat praktik perburuan liar di kawasan tersebut.

“Beberapa faktor ini sangat mendukung. Karena kita ketahui kalau sulitnya hewan ini mencari makan. Maka, dia akan mencari makan di luar hutan. Dan kemungkinan, harimau ini terpancing dengan keberadaan hewan ternak serta manusia di sekitar hutan,” katanya.

 

SEDERET POIN YANG DIDEKLARASIKAN DALAM KONFERENSI STOCKHOLM

Kembali lagi tentang Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2020.

Pada konferensi Stockholm yang berlangsung 5-16 Juni 1972, setidaknya ada 26 poin kesepakatan yang dideklarasikan.

Dikutip dari Kompas.com, satu di antara hasil kesepakatan itu adalah pengakuan atas pengentasan kemiskinan untuk melindungi lingkungan.

Berikut sederet poin-poin yang dideklarasikan pada konferensi itu.

1. Hak Asasi Manusia (HAM) harus ditegaskan, segala bentuk apharteid dan penjajahan harus dihapuskan.

2. Sumber daya alam (SDA) harus dijaga.

3. Kapasitas bumi untuk menghasilkan sumber daya yang dapat diperbaharui harus dilestarikan.

4. Satwa liar harus dijaga.

5. Sumber daya yang tidak dapat diperbarui harus dibagi dan tidak dihabiskan.

6. Polusi yang timbul tidak boleh melebihi kapasitas untuk membersihkan secara alami.

7. Pencemaran laut yang merusak harus dicegah.

8. Pembangunan dibutuhkan untuk memperbaiki lingkungan.

9. Negara-negara berkembang membutuhkan bantuan.

10. Negara-negara berkembang memerlukan harga ekspor yang wajar untuk mengelola lingkungan.

11. Kebijakan lingkungan tidak boleh menghambat pembangunan.

12. Negara-negara berkembang memerlukan uang untuk meningkatkan pelestarian lingkungan.

13. Perencanaan pembangunan yang berkelanjutan diperlukan.

14. Perencanaan rasional harus menyelesaikan konflik antara lingkungan dan pembangunan.

15. Pemukiman penduduk harus direncanakan untuk menghilangkan masalah lingkungan.

16. Pemerintah harus merencanakan kebijakan kependudukan yang sesuai.

17. Lembaga nasional harus merencanakan pengembangan sumber daya alam negara.

18. Ilmu pengetahuan dan teknologi harus digunakan untuk mengembangkan lingkungan.

19. Pendidikan lingkungan sangat penting.

20. Penelitian lingkungan harus didukung, terutama di negara berkembang.

21. Negara boleh memanfaatkan sumber daya yang ada, tapi tidak boleh membahayakan orang lain.

22. Kompensasi diperlukan jika ada negara yang membahayakan.

23. Tiap negara harus menetapkan standar masing-masing.

24. Harus ada kerjasama dalam isu internasional.

25. Organisasi internasional harus membantu memperbaiki lingkungan.

26. Senjata pemusnah massal harus dihilangkan.

Jika dicermati, masih banyak poin-poin di atas yang belum dijalankan secara serius di Indonesia.

Seperti diketahui, negara ini termasuk yang mengirimkan delegasi pada konferensi itu. Yakni mantan Menteri Negara Penertiban Aparatur Negara Emil Salim.

Satu di antara yang belum diimplementasikan adalah pendidikan lingkungan, tertera pada poin ke-19.

Sejatinya, pendidikan lingkungan memang sangat penting diterapkan. Termasuk di Indonesia yang merupakan pemilik kawasan hutan terluas.

Indonesia juga menguasai 17 persen dari total keanekaragaman hayati yang ada di dunia.

Negeri ini merupakan rumah bagi 13 persen mamalia, 14 persen spesies reptil dan amfibi, 17 persen spesies burung, serta lebih dari 10.000 spesies pohon.

Oleh sebabnya, pendidikan lingkungan menjadi sangat dibutuhkan untuk melestarikan titipan Tuhan.

Berbicara fakta, tidak dipungkiri bahwa masih banyak korporasi yang mengeksploitasi isi bumi secara barbar tanpa disertai penindakan hukum yang tegas. Bahkan cenderung dilindungi.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Plang penanda yang dipasang aktivis Greenpeace pada saluran air limbah beracun pabrik tekstil di pinggir Sungai Citarum, Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (Foto: TEMPO/Prima Mulia)

Di negeri ini, hutan bukan lagi tanah sakral. Siapa saja yang punya kantong tebal dapat mengutak-atik peraturan.

Dengan begitu, dia dapat leluasa menunjuk sesuka hati kayu mana yang ingin ditebang, hutan mana yang ingin digunduli, tambang mana yang ingin dikeruk, dan satwa mana yang ingin dijual.

Kriminalisasi terhadap aktivis lingkungan pun masih terus berlanjut. Pembungkaman adalah santapan sehari-hari bagi mereka yang nekat mempertahankan buminya dari kerusakan.

Kementerian terkait yang seyogianya menjadi garda terdepan untuk gerakan konservasi, justru tak lebih hanyalah gimmick dan topeng dari misi tersendiri para cukong yang mencukongi pemegang kebijakan.

Belum lagi secercah harapan muncul di antara rongga sempit sekelumit persoalan di atas, sekelompok manusia justru sibuk menciptakan undang-undang yang isinya tak lebih dari pemulus jalan menuju perusakan lingkungan secara legal.

Rancangan Undang-undang (RUU) Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja (Cilaka) yang seharusnya diciptakan untuk kepentingan para pekerja, justru mencerminkan kebrutalan sifat untuk melenyapkan mereka dan lingkungannya.

Nama RUU itu memang telah diubah. Kata “Lapangan” dihilangkan sehingga hanya menjadi Cipta Kerja.

Namun, perubahan terhadap nama ternyata tidak menjadikan isinya lebih baik. Sehingga terdengar lebih cocok seperti awalnya, “Cilaka”.

Manusia-manusia itu menggagas pasal-pasal baru dan menghapuskan pasal-pasal yang sejatinya menjadi benteng rapuh pertahanan lingkungan di negeri ini.

Mereka lebih condong pada kepentingan investasi dibanding nasib buminya sendiri.

Terdapat puluhan pasal ngawur diselipkan ke dalam rancangan undang-undang setebal 1028 halaman yang terdiri atas 15 bab dan 174 pasal itu. Pengamat meyakini bahwa aturan yang dirancang itu bakal meluluhlantakkan kondisi alam pertiwi.

Semua hal di atas, sembari tetap berharap agar kewarasan tiba-tiba muncul di dalam selaput otak manusia-manusia tersebut, semakin meyakinkan bahwa kesadaran perlindungan lingkungan oleh para pemegang kebijakan begitu miskin.

Jika pasrah adalah sesuatu yang tidak dapat terelakkan, maka mental-mental serupa tidak boleh lagi mewabah dan mewarisi watak generasi penerus.

Cukuplah sejarah yang akan mencatat bahwa sekelompok manusia perusak lingkungan pernah hidup di negeri malang ini. Sejarah akan menjadi saksi untuk ulah mereka.

Ketua DPR RI Puan Maharani menerima draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker) dari Pemerintah, konferensi pers usai pertemuan dengan para menteri di Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Rabu (12/2/2020). (Foto : Geraldi/Man)

Ketua DPR RI Puan Maharani menerima draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker) dari Pemerintah, konferensi pers usai pertemuan dengan para menteri di Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Rabu (12/2/2020). (Foto : Geraldi/Man)

 

PELAJARAN LINGKUNGAN HIDUP HARUS MASUK DALAM KURIKULUM NASIONAL

Generasi muda mesti dicekoki dengan pemahaman tentang pentingnya perlindungan lingkungan dan alam sejak dini agar sejarah tidak kembali terulang; negeri hancur di tangan bangsa sendiri.

Memasukkan mata pelajaran lingkungan hidup dalam kurikulum pendidikan menjadi suatu keharusan.

Anak-anak bangsa harus disadarkan sejak umur jagung, bahwa Tuhan menitipkan kekayaan alam dengan segala isinya di negeri ini semata-mata untuk dijaga.

Silakan ambil hasilnya, tapi bukan berarti boleh dirusak demi kepentingan komersial oleh segelintir golongan.

Setidaknya, anak-anak harus segera tahu apa yang terjadi jika hutan hancur, mereka harus tahu apa yang mesti diperbuat bila masih ada sisa-sisa mental korup yang merongrong lingkungan negeri ini.

Anak-anak harus diajarkan bahwa menanam dan melestarikan pohon, lebih bermanfaat ketimbang menjadikannya bubur kertas ataupun kayu penyangga pintu rumah.

Melestarikan sungai sangat penting, hancurkan para tangan yang mengotorinya dengan limbah pabrik.

Mereka juga harus tahu bagaimana cara membudidayakan tumbuhan-tumbuhan langka, mengembangbiakkan hewan-hewan endemik.

Semua itu harus ditanamkan dalam kurikulum pendidikan di negeri ini. Mulai dari sekolah dasar hingga menengah ke atas mesti menyediakan fasilitas mata pelajaran ilmu lingkungan hidup.

Sejujurnya, usulan ini sudah pernah dilayangkan di Sumatera Utara.

Saat kasus kerusakan lingkungan dan pungutan liar mencuat di Sibolangit, Deliserdang, Sumatera Utara pada 2016 lalu, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) menggelar demonstrasi.

Rapat Dengar Pendapat (RDP) juga telah digelar oleh Komisi B DPRD Sumatera Utara bersama sejumlah stakeholder.

Pada rapat itu, perwakilan Mapala telah meminta pemerintah agar pelajaran lingkungan hidup masuk dalam kurikulum pendidikan.

“Kami sudah sampaikan ini berulang kali, tapi tidak ada tindaklanjutnya. Pendidikan lingkungan hidup ini harus ada di kurikulum kita, kalau bisa kita di Sumut jadi pelopor ini,” ujar perwakilan Mapala asal UMSU, Muhammad Nur Rifai, Rabu (22/6/2016).

Menurut lelaki yang akrab disapa Black ini, pelajaran lingkungan hidup merupakan satu solusi jangka panjang guna mengurangi tindak perusakan hutan berserta isinya.

“Ini untuk generasi penerus kita, kalau mau cerita pencegahan perusakan hutan, ya, harus seperti itu, masuk dalam pendidikan dulu,” ujarnya.

Meski pendapat yang diberikan Black tersebut disambut baik oleh peserta RDP yang hadir, namun tidak ada rencana tindak lanjut yang diberikan.

“Kita coba nanti sampaikan ini,” ujar Ketua Komisi B DPRD Sumut kala itu, Sopar Siburian.

Bertahun-tahun setelah usulan itu, hingga kini belum ada tanda-tanda pemerintah bakal mengakomodirnya ke dalam kurikulum pendidikan.

Padahal, Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia sangat cocok untuk dijadikan momentum pembahasan usulan tersebut.

Presiden Joko Widodo sendiri juga telah berulang kali melakukan reshuffle untuk posisi menteri yang berkaitan. Tapi, juga belum ada kebijakan yang mengarah ke sana.

Di sisi lain, Joko Widodo adalah presiden yang, katanya, dulu sempat bergabung di organisasi Mapala.

Presiden Joko Widodo saat bergabung dalam organisasi Mapala. (Foto: istimewa)

Jika benar demikian, sudah seharusnya hal-hal seperti ini menjadi perhatian besar baginya.

Tapi begitulah. Mungkin bisa saja usulan agar pelajaran lingkungan hidup dimasukkan dalam kurikulum nasional tidak pernah sampai ke telinga para pemegang kebijakan.

Atau jangan-jangan, memang mereka sudah tuli.

(NB)

Nanda Fahriza Batubara

Menolak rontok di negeri sendiri. Penulis merupakan alumni Departemen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU). Semasa kuliah sempat menjabat Ketua Umum Gemapala FIB USU meski tidak sampai satu periode. Huh.

1 Comment

  1. Avatar

    Ponaryo

    Juni 29, 2020 at 9:56 pm

    Setujuuuu karna pelajaran lingkungan sangat penting untk kehidupan generasi kita

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *