Shelter

Hari Ini Tepat Dua Abad Lalu, Letusan Dahsyat Gunung Tambora Gemparkan Dunia

By  | 

Penarimba.com – Hari ini, tepat dua abad lalu, letusan Gunung Tambora di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, gemparkan dunia.

Gunung vulkanik itu meletus pada 10 April 1815. Letusan pada hari itu menjadi yang terkuat setelah sekitar sepekan sebelumnya mulai terjadi letusan-letusan permulaan.

Total volume yang dikeluarkan Gunung Tambora pada waktu itu mencapai 150 kilometer kubik. Abu vulkanik berjatuhan hingga sejauh 1.300 kilometer.

Dahsyatnya letusan juga menimbulkan gelombang tsunami dengan ketinggian sekitar empat meter. Tsunami menyapu dari Jawa Timur hingga Kepulauan Maluku.

Sejumlah desa dan tiga kerajaan di lereng gunung tersebut terkubur beserta penduduknya. Semuanya ludes tersapu dan tertimbun material vulkanik.

Tidak hanya di Nusantara, letusan juga berdampak hebat dan turut gemparkan seluruh penjuru dunia. Dilaporkan bahwa peristiwa itu menyebabkan perubahan iklim selama tiga tahun berturut di kawasan Asia, Eropa hingga Amerika.

Abu menutup sinar matahari hingga membuat dunia terasa semakin dingin. Suhu global menurun sekitar 0,4 sampai 0,7 derajat celsius akibat kabut kering yang menyelimuti bumi.

Bahkan, peristiwa ini juga sempat menyebabkan dunia tanpa musim panas. Sejumlah petani di belahan dunia dilaporkan mengalami gagal panen. Akibatnya, bencana kelaparan turut menjadi dampak turunan letusan gunung tersebut.

Letusan Gunung Tambora kala itu tercatat sebagai letusan gunung vulkanik terdahsyat sepanjang sejarah manusia modern.

Dilansir dari Historia.id, letusan Gunung Tambora sempat dikira merupakan suara letupan senjata. Saat itu, Indonesia masih berada di bawah sistem kolonial kuno bangsa barat.

Letnan Owen Philips, melaporkan bahwa pemandangan di sekitar gunung tersebut amat mengerikan. Mayat-mayat tergeletak di jalanan.

Diperkirakan 11.000 orang tewas karena terkena efek langsung letusan, menyusul 49.000 lainnya karena bencana kelaparan di Sumbawa, Lombok dan Bali.

Catatan lain memperkirakan jumlah korban tewas mencapai 71.000 hingga 91.000 jiwa.
Berdasarkan Volcanic Explosivity Index, magnitudo letusan Gunung Tambora berada pada skala 7 dari 8.

Sedikit lebih rendah dibanding letusan Gunung Supervolcano Toba yang terjadi sekitar 74.000 tahun lalu.

“Mereka juga terkena penyakit diare yang disebabkan karena meminum air yang telah tercampur abu vulkanik. Kuda-kuda mereka juga mati, dalam jumlah yang besar, dikarenakan hal yang sama,” lapor Owen Philips dalam History of Java Volume 1.

Tidak hanya sempat disangka sebagai suara letupan senjata, peristiwa bersejarah letusan Gunung Tambora tersebut juga dianggap sebagai bagian dari mitos lokal bahwa Nyai Loroh Kidul tengah menikahkan seorang anaknya.

Di saat itu pula kekaisaran Prancis di bawah pimpinan Napoleon tengah bertempur melawan lima koalisi kekaisaran Eropa.

Dikutip dari Tirto.id, kekalahan Napoleon juga disebakan kondisi ekstrem di wilayah itu yang merupakan imbas dari letusan Gunung Tambora.

“…Hujan turun begitu lebat, tentara tertua dari pasukan itu bahkan tidak pernah melihat kejadian seperti ini,” tulis John Lewis dalam “The Weather of the Waterloo Campaign 16 to 18 June 1815: Did it Change the Course of History?”.

Karena dahsyatnya letusan itu, gunung Tambora yang mulanya menjulang setinggi 4.300 mdpl terpangkas menjadi setinggi 2.772 mdpl.

Kini, kaldera yang terbentuk di gunung Tambora merupakan kaldera aktif terbesar di dunia. Daerah di sekitar lereng gunung itu saat ini juga menjadi pusat penelitian arkeologi tentang tiga kerajaan yang tertimbun dalam peristiwa yang gemparkan dunia itu.

(NB)

Nanda Fahriza Batubara

Menolak rontok di negeri sendiri. Penulis merupakan alumni Departemen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU). Semasa kuliah sempat menjabat Ketua Umum Gemapala FIB USU meski tidak sampai satu periode. Huh.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *