Shelter

Kerusakan Hutan dan Terulangnya Peristiwa Harimau Sumatera Mengadang Warga di Tenggulun Aceh Tamiang

By  | 

Penarimba.com – Seekor Harimau Sumatera mengadang warga di sekitar Kampung Tenggulun, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Kamis (18/6/2020).

Lima warga yang hendak pulang usai mencari getah damar berpapasan dengan seekor harimau.

Berdasarkan informasi, harimau tersebut terlihat saat mereka berada di perbatasan hutan dan areal perkebunan PT Sinar Jaya.

Dilansir dari serambinews.com, Kapolsek Kejuruan Muda Iptu Hendra Sukmana mengatakan bahwa awalnya seekor Harimau Sumatera terlihat sekitar 30 meter di depan kelima pencari getah tersebut. Jenis kelaminnya diperkirakan berjenis kelamin jantan.

Mereka pun sontak terdiam dan coba bersembunyi. Namun sang harimau semakin mendekat.

Beberapa dari mereka lalu berupaya mengusirnya dengan melempar batu dan kayu. Pun begitu, harimau tidak pergi. Bahkan justru kian mendekat.

Kelimanya memutuskan untuk mengamankan diri dengan cara memanjat pohon.

“Harimau itu tetap menunggu di bawah. Kemudian, salah seorang dari mereka menghubungi perangkat kampung menggunakan handphone dan selanjutnya diteruskan kepada kami,” ujar Hendra ditutup dari serambinews.com, Jumat (19/6/2020).

Dari sumber berbeda, Hendra menceritakan bahwa kelima warga tersebut juga sempat menyalakan api dengan maksud menakuti harimau. Alih-alih takut, satwa terancam punah itu justru bergeming.

Harimau Sumatera mengadang warga

Empat di antara lima pencari getah damar saat berada di rumah perangkat MDSK Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, Kamis (18/6/2020) malam. (Foto: istimewa)

Kelima warga yang berpapasan dengan harimau itu adalah Roy Mansyah (37), Ahyar Madani (29), Edo Pratama (28), Agung Prasetyo (24) dan Edi Prawoto (48).

“Mereka berusaha mengusir namun tidak berhasil bahkan semakin mendekat, kemudian mereka mencoba membuat Api dengan alat seadanya, dan salah satu dari mereka mencoba menghubungi Pak RT II Dusun Suka Mulya, Trimo dengan telpon seluler (HP),” ujar Hendra dikutip dari anteroaceh.com.

Mendapat laporan adanya seekor Harimau Sumatera mengadang lima warga, masyarakat setempat bersama personel kepolisian langsung bergegas ke lokasi guna melakukan evakuasi.

Di tengah perjalanan, rombongan bertemu dengan harimau yang mengadang warga. Mereka kemudian menyalakan mercon untuk mengisinya.

Pada Kamis (18/6/2020) sekira pukul 20.30 WIB, kelima warga akhirnya berhasil dievakuasi.

“Akhirnya ke lima warga yang terjebak tersebut berhasil selamat dan dapat dievakuasi,” ujar Hendra.

Peristiwa pertemuan antara manusia dan Harimau Sumatera di lokasi terbuka sebenarnya bukan baru pertama terjadi di Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.

Pada Juli 2013 lalu, Harimau Sumatera juga mengadang warga yang berprofesi sebagai pencari Kayu Alim.

Enam orang terlibat konflik dengan harimau tersebut. Bahkan, satu di antaranya tewas. Mereka berpapasan dengan satwa buas itu berada di pedalaman hutan Leuser.

Keenam warga tersebut adalah David, Adi Susilo, Mujiono, Budi Setiawan, Suriadi dan Awaludin.

“Tapi satu orang mati diterkam harimau,” ujar Kapolres Aceh Tamiang AKBP Dicky Sondani kepada merdeka.com.

Dicky mengatakan, peristiwa Harimau Sumatera mengadang warga ini sebelumnya juga sudah pernah terjadi.

Dengan kata lain, peristiwa tersebut sudah terulang setidaknya tiga kali.

“Ini sudah peristiwa ke dua. Tapi ini yang parah, memang ada-ada saja orang-orang itu. Sudah tahu bahaya masih saja masuk ke dalam hutan cari kayu itu,” katanya.

Kemunculan teranyar Harimau Sumatera di sekitar Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, sebenarnya sudah terpantau sejak Mei 2020 lalu.

Harimau Sumatera mengadang warga

Kemunculan Harimau Sumatera di kawasan hutan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, baru-baru ini. (Foto: KEMPra via waspadaaceh.com)

Seorang pegiat lingkungan setempat, Andi Nur Muhammad, memaparkan dugaan praktik curang yang menyebabkan kerusakan habitat Harimau Sumatera

Ketika melakukan peninjauan, Andi mendapati setumpuk kayu yang sudah dipotong-potong di dalam kawasan hutan.

“Menyikapi kondisi ini tim melakukan ground chek lapangan dan menemukan tumpukan kayu belah dari hasil penebangan di sekitar lokasi, pada koordinat terdekat dari lokasi N 04’00’52.4″ E 098’01’32.4,” kata Andi dikutip dari waspadaaceh.com, Rabu (27/5/2020).

Dilansir dari Mongabay.com, Pemerintah Belanda sejak tahun 1932 telah menetapkan hutan di Tenggulun sebagai wilayah yang dilindungi.

Ketika Indonesia merdeka, daerah tersebut kemudian diatur pada Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960.

Gejala inkonsistensi terjadi pada 1970-an, hutan tersebut diturunkan dari yang awalnya merupakan hutan lindung menjadi hutan produksi terbatas (HPT).

Tidak itu saja, ada penambahan kata sementara yang membuatnya berlabel hutan produksi terbatas sementara (HPTS). Dan ini, hanya terjadi di Aceh, saat itu, yang berlaku hingga tahun 2000.

Penataan dilakukan kembali ketika Menteri Kehutanan mengeluarkan Keputusan Menteri Nomor 170 Tahun 2000 tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Aceh. Status hutan itu kembali menjadi hutan lindung.

Sebagian kawasan ini memang dilepaskan untuk areal kelapa sawit.

Direktur Eksekutif Lembaga Advokasi Hutan Lestari (LembAHtari) Sayed Zainal kepada Rakyat Aceh memaparkan sejumlah temuan kerusakan hutan di kawasan hutan Tenggulun.

Harimau Sumatera mengadang warga

Pembukaan lahan di kawasan hutan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. (Foto: harianrakyataceh.com)

“Bahkan pada kawasan hutan lindung di empat kecamatan wilayah hulu yaitu, Tenggulun, Tamiang Hulu, Bandar Pusaka dan Sekerak terus dibabat hingga sekarang,” katanya kepada harianrakyataceh.com, Minggu (17/5/2020).

(IP)

Ido Panukunan Sinaga

Kerap menyemangati diri bahwa tinggi badan bukanlah segalanya. Penulis merupakan mahasiswa semester akhir Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU). Pernah menjabat Ketua Umum Gemapala FIB USU Periode 2018-2019.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *