Shelter

Lima Laporan Pendaki Gunung Hilang Kurun Dua Hari, Hanyut hingga Tewas di Jurang

By  | 

Penarimba.com – Kurun dua hari, ada lima laporan pendaki gunung hilang di sejumlah daerah.

Laporan teranyar tersiar dari Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat.

Seorang pendaki yang juga anggota organisasi mahasiswa pecinta alam asal Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu, dilaporkan hilang usai turun dari Gunung Tambusisi, Morowali Utara, Sulawesi Tengah, Senin (6/7/2020).

Hingga berita ini diturunkan, lelaki bernama Faisal tersebut belum ditemukan. Dia diduga hanyut di sungai.

Dari informasi yang dirangkum, Faisal bersama lima rekannya hendak mendaki Gunung Tambusisi pada Senin (29/6/2020) lalu.

Mereka tiba di Desa Lembasemara, Morowali Utara, pada Selasa (30/6/2020). Kemudian mulai mendaki pada Rabu (1/7/2020).

Selang enam hari tanpa kontak, anggota tim kemudian menghubungi rekannya pada Selasa (7/7/2020) dan mengabarkan seorang dari mereka terpisah.

Menurut kesaksian satu di antara anggota rombongan, Alif Hidayat, mereka terpisah dengan Faisal saat turun dari gunung pada Senin (/7/2020).

Katanya, Faisal berjalan mendahului tim dan beberapa saat kemudian tidak terlihat lagi.

Pendaki gunung hilang

Faisal. (Foto: istimewa)

Karena khawatir, anggota rombongan yang tersisa membagi tim untuk menemukan keberadaan Faisal.

Satu tim berjalan cepat mengejar Faisal, sedangkan tim lainnya berjalan lambat lantaran terdapat anggota yang sedang sakit.

Kala itu, hujan deras dikabarkan mengguyur mereka.

Setibanya di sungai, tim pertama belum menemukan Faisal. Mereka kemudian menuju desa terdekat karena menduga Faisal telah tiba di sana.

Namun, perkiraan mereka meleset. Faisal tidak ada.

Sedangkan tim kedua yang berjalan belakangan dikabarkan terjebak di seberang sungai lantaran hujan semakin deras dan permukaan air sudah naik.

 

WARGA TERPEROSOK KE JURANG USAI MENDAKI GUNUNG RINJANI

Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang warga yang baru turun dari Gunung Rinjani, NTB, tewas akibat terperosok ke jurang.

Lelaki bernama Sahli (36) itu mendaki bersama 13 rekannya ke Gunung Rinjani pada Sabtu (4/7/2020).

Mereka merupakan warga Desa Tampak Siring, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, rombongan warga tersebut bermalam di areal Goa Susu sebelum melanjutkan perjalanan ke Danau Segara Anak dan tiba pada Minggu (5/7/2020).

Keesokannya, Senin (6/7/2020), Sahli bersama rekannya turun dan sampai di jalur curam. Tiba-tiba, kaki Sahli terperosok, seketika dia jatuh ke jurang.

Teman-temannya yang melihat sontak terkejut dan kemudian mencari Sahli. Beberapa saat kemudian, mereka mendapati lelaki tersebut tewas di sekitar Tanah Sinjong.

“Benar, ada satu orang tewas, saat ini jenazah sudah diserahkan ke pihak keluarga di rumahnya,” ujar Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Dedy Asriady kepada Penarimba.com, Selasa (7/7/2020).

Pendaki Gunung tewas

Jenazah Sahli yang tewas usai turun dari Gunung Rinjani. (Foto: BTNGR)

Peristiwa warga meninggal di Gunung Rinjani meninggalkan catatan tersendiri. Sebenarnya, jalur pendakian gunung vulkanik tertinggi kedua di Indonesia itu masih ditutup.

Dedy mengatakan, saat ini hanya delapan destinasi wisata non pendakian yang telah dibuka untuk umum.

Sedang untuk destinasi wisata jenis pendakian masih ditutup.

“Taman Nasional Gunung Rinjani mulai hari ini resmi membuka delapan destinasi wisata non-pendakian,” kata Kepala Balai TNGR Dedy Asriady saat menggelar konferensi pers, Senin (6/7/2020) lalu.

TNGR menerapkan pembatasan kuota wisatawan untuk tiap destinasi demi mematuhi protokol kesehatan dalam melalui era new normal.

Di samping itu, para wisatawan juga diwajibkan menggunakan masker dan membawa hand sanitizer.

Kemudian harus punya kantung sampah, menjaga jarak dan membawa surat keterangan bebas Covid-19 bagi yang berasal dari luar NTB.

Balai TNGR juga akan membatasi jam kunjungan, yakni mulai pukul 09.00 WITA sampai pukul 15.00 WITA. Wisatawan tidak boleh menginap.

 

PENDAKI GUNUNG YANG HILANG DITEMUKAN TEWAS

Kembali tentang peristiwa maraknya pendaki gunung hilang belakangan ini.

Sebelum dari Sulawesi Tengah dan NTB, kabar pendaki gunung hilang sudah lebih dulu datang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pada waktu yang hampir bersamaan, sejumlah pendaki dikabarkan hilang di Gunung Lawu dan Gunung Penanggungan.

Pada Senin (6/7/2020), seorang pendaki ditemukan tewas usai sebelumnya dikabarkan hilang di Gunung Lawu. Pendaki itu bernama Andi Sulistiyawan.

Awalnya, pemuda asal Karanganyar itu diduga tewas akibat jatuh ke jurang.

Namun belakangan kematian Andi diduga karena terserang hipotermia. Jasad Andi ditemukan tak jauh dari puncak gunung.

Proses evakuasi jenazah Andi dari Gunung Lawu. (Foto: istimewa)

Berdasarkan informasi yang diperoleh, Andi mendaki Gunung Lawu bersama lima rekannya pada Sabtu (4/7/2020).

Pada pukul 22.00 WIB, rombongan tiba di puncak dan kemudian berkemah semalam.

Pada Minggu (5/7/2020) dini hari, sekira pukul 03.00 WIB, seorang perempuan anggota rombongan meminta Andi menemaninya buang air kecil di dekat tenda.

Setelah tuntas buang air, perempuan yang bernama Nurhayati itu tidak lagi melihat Andi.

Beberapa saat ditunggu, Andi pun tetap tak kunjung muncul. Akhirnya, rekan-rekan dia berinisiatif mencari.

Namun hingga pukul 13.00 WIB, Andi tak kunjung ditemukan sehingga rekannya melapor ke basecamp.

Pada Senin (6/7/2020) sekira pukul 11.00 WIB, salah satu anggota relawan KPH Lawu Selatan menemukan Andi dengan kondisi tidak bernyawa di pinggir jurang di sekitar puncak Gunung Lawu.

 

PASANGAN PENDAKI GUNUNG DIKABARKAN HILANG, TERNYATA HANYA MENUNDA TURUN

Di tempat berbeda, dua pendaki asal Surabaya juga sempat dilaporkan hilang di Gunung Penanggungan, Mojokerto, Jawa Timur, pada Minggu (5/7/2020).

Warga yang mendengar laporan ini seketika khawatir dan langsung membantu pencarian.

Seorang di antaranya bernama Yahya Muchyiddin (26), warga Kelurahan Lontar, Kecamatan Sambikerep, Surabaya, Jawa Timur.

Sedangkan seorang lagi merupakan teman wanitanya yang bernama Meilani Dwi Krismonika (22), warga Kelurahan Banyuurip, Kecamatan Sawahan, Surabaya.

Pendaki gunung hilang

Dua pasangan yang mendaki gunung ditemukan selamat usai sebelumnya dikabarkan hilang. (Foto: istimewa)

Saat warga sudah cemas dan mulai mencari, ternyata keduanya ditemukan dalam kondisi baik-baik saja dan berpapasan dengan warga ketika turun pada Senin (6/7/2020).

Belakangan diketahui bahwa kedua pendaki tersebut hanya menunda turun dari jadwal yang di rencanakan sebelumnya.

Mereka mendaki Gunung Penanggungan via jalur Telogo, Dusun Kandangan, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Mojokerto, pada Sabtu (4/7/2020).

Sekitar Minggu (5/7/2020) pukul 05.30 WIB, mereka tiba di puncak. Mereka pun mendirikan tenda untuk beristirahat dan rencananya turun ketika sore.

Namun tiba-tiba kondisi cuaca menjadi buruk dan mereka memutuskan untuk menginap semalam lagi. Tanpa mereka sadari, keputusan tersebut membuat warga cemas.

 

PENDAKI GUNUNG YANG HILANG DITEMUKAN JURU PARKIR

Mundur sedikit ke belakang, laporan pendaki gunung hilang sebelumnya juga terdengar dari Gunung Guntur, Garut, Jawa Barat.

Pendaki tersebut merupakan remaja bernama Afrizal Putra Martian (16), warga Desa Cigarungsang, Kecamatan Cilawu, Garut.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, Afrizal mendaki Gunung Guntur pada Jumat (3/7/2020) lalu sekira pukul 14.30 WIB.

Afrizal mendaki bersama empat temannya.

Sesampainya di Pos III, mereka memutuskan untuk beristirahat dan berencana turun esok hari.

Namun pada Sabtu (4/7/2020) pagi, Afrizal sudah tidak berada di dalam tenda. Hal ini membuat rekan-rekannya heran dan kemudian coba mencari hingga siang hari.

“Tapi sampai pukul 13.00 WIB, korban tidak datang. Akhirnya rombongan memutuskan untuk turun dan melaporkan kejadian itu,” ujar Kepala Basarnas Bandung Deden Ridwansah, Minggu (5/7/2020).

Mendengar laporan pendaki hilang di Gunung Guntur, petugas langsung menggelar operasi pencarian ke lokasi kejadian.

Kapolsek Tarogong Kaler Iptu Masrokan membenarkan laporan pendaki hilang di Gunung Guntur.

Ia mengatakan bahwa petugas sudah terjun ke lokasi melakukan pengecekan.

“Korban berangkat Jumat pukul 13.00 sampai di lokasi kemah jam 18.00 WIB, pada waktu temannya bangun jam 05.00 WIB korban sudah tidak ada di tenda,” kata Masrokan dikutip dari Antara.

 

DITEMUKAN TELANJANG DI SEKITAR BATU BESAR

Setelah upaya pencarian dilakukan, Afrizal akhirnya berhasil ditemukan dengan kondisi selamat.

Dia ditemukan oleh seorang lelaki yang selama ini berprofesi sebagai juru parkir bernama Entis Sutisna (61).

Saat itu, Afrizal sedang berada di sekitar batu berukuran besar dekat sumber mata air Citiis.

Lokasi ini berada cukup jauh dari perkemahan yang kelompoknya di Pos III.

Entis mengatakan, Afrizal sudah lemas saat itu. Tubuhnya juga mengalami luka akibat terkena duri. Dia pun berinisiatif langsung membawanya ke rumah.

Menurut Entis, dia mencari Afrizal bersama dua rekannya melalui jalur yang berbeda dengan tim gabungan Basarnas.

Meski sempat kelelahan, upaya pencarian membuahkan hasil setelah teriakan Entis dijawab oleh Afrizal.

“Saya tawasul, berserah diri kepada Allah, karena semuanya bagaimana Allah. Setelah itu saya bertanya siapa namanya kepada yang menemani, disebutlah namanya Afrizal. Saya langsung berteriak memanggil Afrizal dan Alhamdulillah ada jawaban,” ujar Entis dikutip dari merdeka.com, Minggu (5/7/2020).

Pendaki gunung hilang

Kolase Afrizal saat ditemukan.

Entis bersama dua rekan kemudian langsung bergegas menuju ke arah suara yang menjawab panggilannya.

Setelah berjalan beberapa saat, mereka akhirnya menemukan Afrizal dengan kondisi telanjang di dekat batu besar.

Dia langsung memeluk dan kemudian memberinya pakaian.

Menurut Entis, Afrizal tidak sadar hingga bisa sampai di lokasi ini. Yang terakhir diingatnya adalah tidur bersama empat rekannya di tenda.

“Saya sempat nanya, tadi sempat lihat ada orang atau enggak. Dijawabnya melihat, tapi tidak bisa memanggil dan orang yang dilihatnya pun tidak melihatnya,” cerita Entis.

Lebih lanjut, Entis mengaku terpanggil untuk turut mencari Afrizal lantaran selama ini menggantungkan hidup dari penghasilan sebagai penjaga parkir di sekitar Gunung Guntur.

(SM)

Sandy Saputra Marpaung

Saat ini sedang sibuk berdamai dengan pikirannya. Sebelum negara api menyerang, penulis sempat mengenyam pendidikan di Departemen Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU). Selama kuliah ia juga aktif dalam organisasi Gemapala FIB USU.

1 Comment

  1. Avatar

    Zulialemunthe perangin-angin

    Juli 9, 2020 at 8:40 am

    Waspadalah.. waspadalah..

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *