Shelter

Riwayat Badak Jawa dan Harapan yang Menyertai

By  | 

Penarimba.com – Seekor Badak Jawa (Rhinocerus sondaicus) terekam trap camera sedang berkubang di sekitar air terjun Blok Cigenteur, Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, belum lama ini.

Badak tersebut berjenis kelamin jantan dan diperkirakan sudah berusia sekitar tujuh tahun.

Melalui media sosialnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar membagikan video berdurasi yang memperlihatkan badak itu sedang berguling di suatu kubangan.

Pada laman Facebook-nya, Siti menyebut badak tersebut bernama Musofa. Sedangkan laman Twitter @KementerianLHK menjelaskan bahwa badak yang terekam kamera itu bernama Avi.

Terlepas dari siapa nama sebenarnya, menurut Siti terdapat berbagai manfaat yang diperoleh badak ketika berkubang.

“Aktivitas ini dilakukan badak untuk menjaga suhu dan kelembaban tubuh, pemenuhan mineral, mengurangi parasite dan untuk beristirahat. Biasanya dilakukan setidaknya dua kali dalam sehari dengan durasi terlama sampai dengan tiga jam,” tulis Siti pada akun Twitter-nya, Senin (29/6/2020).

Badak Jawa

Badak Jawa terekam kamera sedang berkubang di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. (Foto: Twitter @SitiNurbayaLHK)

Siti mengatakan, populasi badak endemik Indonesia ini tercatat 72 individu pada 2019 lalu.

Mereka terdiri atas 39 individu berjenis kelamin jantan dan 33 individu betina.

Selama ini, pihaknya telah melakukan sejumlah program konservasi untuk melindungi satwa tersebut. Petugas juga rutin melakukan pengamanan dan patroli, monitoring badak dan pembinaan habitat (Rhino Monitoring Unit) di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.

“Penanaman dan pemeliharaan pakan Badak Jawa di Semenanjung Ujung Kulon serta berbagai upaya lainnya,” tulisnya.

Badak Jawa merupakan mamalia bertubuh besar paling langka di dunia dan masuk dalam daftar merah versi International Union for Conservation of Nature (IUCN). Mereka menyatakan satwa ini berstatus Critically Endangered atau terancam punah.

Populasinya hanya berada di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, Indonesia.

Dilansir dari laman IUCN, Badak Jawa terakhir yang hidup di Vietnam diyakini telah diburu dan habis pada 2010 silam.

Dulu, badak jenis ini pernah hidup meliputi kaki pegunungan Himalaya hingga Pulau Jawa dan Pulau Sumatra.

Tapi, populasi mereka terus tergerus hingga akhirnya terancam punah akibat hilangnya habitat serta perburuan.

Beberapa bagian tubuh badak dipercaya mampu menjadi obat tradisional. Cula menjadi alasan terbesar mengapa satwa malang ini terus diburu.

 

PERBEDAAN BADAK JAWA DAN BADAK SUMATERA

Indonesia boleh bersyukur karena dikaruniai dua dari lima jenis badak yang diketahui masih hidup di bumi. Selain Jawa, Indonesia juga punya Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis).

Sayangnya, dua jenis badak tersebut sama-sama berstatus terancam punah.

Badak Jawa dan Badak Sumatera memiliki beberapa perbedaan mencolok pada fisiknya. Badak Jawa diketahui punya ukuran tubuh yang cenderung lebih besar dari Badak Sumatera.

Badak Sumatera

Badak Sumatera bernama Delilah di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. (Foto: Mongabay)

Badak Sumatera memang dikenal sebagai spesies badak paling primitif yang masih hidup di bumi. Panjangnya hanya berkisar 240-270 sentimeter dengan tinggi 120-135 sentimeter.

Sedangkan Badak Jawa mampu berukuran panjang hingga hampir empat meter dengan tinggi antara 168-175 sentimeter.

Di samping itu, perbedaan juga terdapat pada ukuran dan bentuk cula antara kedua badak ini.

Cula tunggal Badak Jawa jantan bisa mencapai hingga 27 sentimeter. Sedangkan yang betina tidak memiliki cula.

Sementara Badak Sumatera memiliki dua cula yang lebih kecil.

 

JUMLAH POPULASI MENINGKAT

Jika menilai berdasarkan data pemerintah, terjadi peningkatan jumlah individu kurun tiga tahun terakhir.

Pada 2019 lalu, Balai Taman Nasional Ujung Kulon memaparkan hasil pantauan kamera dan menyatakan ada 72 individu badak di taman nasional tersebut.

Jumlah ini meningkat jika dibandingkan dengan data pada 2017 lalu, yakni 63 individu.

Selama 2019, diketahui ada empat bayi badak yang lahir dari dua induk.

(IP)

Ido Panukunan Sinaga

Kerap menyemangati diri bahwa tinggi badan bukanlah segalanya. Penulis merupakan mahasiswa semester akhir Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU). Pernah menjabat Ketua Umum Gemapala FIB USU Periode 2018-2019.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *