Shelter

Secercah Harapan Itu Muncul Lagi: Harimau Jawa Belum Punah

By  | 

Penarimba.com – Sebulan lalu, foto eksklusif seekor hewan yang dipercaya merupakan Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) diungkap ke publik.

Adalah seorang peneliti independen dari Peduli Karnivor Jawa (PKJ), Didik Raharyono, yang kembali menegaskan keyakinan bahwa Harimau Jawa belum punah.

Didik yang dikenal telah mengabdi selama lebih dari dua dekade untuk meneliti satwa yang diklaim telah punah tersebut, memperlihatkan ke publik suatu foto yang ia peroleh dari pemburu babi hutan di Pulau Jawa.

Foto amatir itu memperlihatkan seekor harimau sedang berjalan di sekitar aliran sungai di hutan jati yang lokasinya masih dirahasiakan Didik demi menjaga kelancaran riset. Harimau itu difoto saat berada di sekitar bekas kubangan babi hutan.

Didik memeroleh foto tersebut dari seorang pemburu babi hutan pada Desember 2018 lalu. Sedangkan foto itu berhasil diabadikan pemburu babi tersebut sekitar tiga bulan sebelumnya.

Setelah mendapat informasi, Didik pun langsung melakukan verifikasi ke pengirim foto serta lokasi yang diduga merupakan benteng terakhir kehidupan Harimau Jawa itu.

Ia mulai melakukan uji kecocokan terhadap berbagai faktor. Di antaranya keterangan pemotret, kondisi hutan, tanah hingga air dan vegetasi dedaunan.

Hasilnya, kata Didik, menunjukkan kecocokan.

“Seratus persen sesuai antara foto dengan lokasi yang saya verifikasi,” ujar Didik dikutip dari kompas.com, beberapa waktu lalu.

Untuk mendapatkan bukti lebih lengkap, Didik langsung menggaet warga setempat untuk melakukan pemantauan.

Mereka juga telah memasang kamera jebak atau trap camera di sekitar lokasi pada musim kemarau 2019.

Nahas, terjadi kebakaran di kawasan hutan jati tersebut. Meski demikian, dua unit kamera Didik tidak turut dilahap api.

“Sementara hasilnya masih kosong, belum ada yang terekam,” ujar Didik.

Harimau Jawa belum punah

Harimau Jawa yang terpantau di Ujung Kulon tahun 1938. (Foto: Wikimedia Commons/Andries Hoogerwerf)

Sebagaimana ia dikenal, semangat Didik tidak kendur walau belum mendapat bukti lebih lanjut. Ia berencana kembali ke lokasi.

“Harimau Jawa masih ada dan belum punah. Konservasi Harimau Jawa sudah waktunya,” ujar Didik.

Didik mengatakan, warga ataupun pemburu babi hutan di sekitar lokasi hutan jati yang kini menjadi wilayah pemantauannya sering melapor pernah melihat keberadaan harimau. Hanya saja, sangat sulit untuk dapat mengabadikannya dalam bentuk foto.

Tak hanya itu, seorang pemburu juga mengaku kepada Didik menembak anak harimau tak jauh dari lokasi hutan jati tersebut pada 2012 silam.

Dari penelitian sejak 2008 lalu, Didik memprediksi masih ada sekitar 5-11 ekor Harimau Jawa atau yang biasa dijuluki Harimau Loreng di sana.

Didik menolak percaya pada klaim yang menyebut Harimau Jawa telah punah. Menurutnya, metode yang digunakan para peneliti mainstream untuk menyatakan subspesies itu punah masih lemah.

“Harimau ini menetap di seputaran hutan jati itu,” kata Didik dikutip dari Radar Cirebon.

Meski sudah banyak memegang bukti bahwa Harimau Jawa belum punah, proposal yang diajukan Didik untuk meneliti keberadaan serta program konservasi terhadap satwa itu tidak pernah diterima.

Untuk diketahui, selama berpuluh tahun meneliti Didik sudah mengumpulkan sejumlah bukti awak seperti bekas jejak, cakaran hingga potongan kulit.

Ia juga memegang bukti bahwa bagian tubuh Harimau Jawa masih ramai diperdagangkan antara 2004 dan 2008 lalu, padahal saat itu status hewan tersebut telah dinyatakan punah.

”Saya sudah gembar-gembor lama tapi tidak ada institusi manapun yang berminat kerja sama di riset ini,” ujar dia.

Pada 25 Agustus 2017 lalu, para pegiat konservasi juga sempat mendapat secercah harapan bahwa Harimau Jawa belum punah.

Harapan itu muncul saat trap camera yang dilengkapi sensor gerak berhasil memotret seekor kucing besar dengan bulu loreng yang tampak seperti harimau di Padang Penggembalaan Cidaon, Taman Nasional Ujung Kulon, Banten.

Harimau Jawa belum punah

Foto yang awalnya diduga Harimau Jawa di Padang Pengembalaan Cidaon, Taman Nasional Ujung Kulon. (Foto: Balai Taman Nasional Ujung Kulon/LIPI)

Kucing besar itu sempat diduga merupakan Harimau Jawa. Namun belakangan, sejumlah ahli dan peneliti meragukannya dan lebih condong menduga bahwa kucing besar itu merupakan seekor Macan Tutul.

”Di bagian kaki depan menuju leher ada titik-titik ciri khas Macan Tutul. Tapi saya penasaran, ada pola garis-garis di bagian perutnya. Jangan-jangan ini (satwa) hibrida,” ujar Didik dikutip dari BBC Indonesia waktu itu.

Meski masih sumir, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon Mamat Rahmat tetap menaruh harapan bahwa Harimau Jawa belum punah.

”Saya harap-harap cemas. Secara personal meyakini kucing besar tersebut masih ada,” kata tersebut.

Mamat berpendapat hewan yang muncul pada trap video pada 25 Agustus tersebut memiliki loreng menyerupai harimau.

”Dari corak warna berbeda sekali. Lorengnya mendekati loreng Harimau Jawa,” kata dia.

”Kami lihat kalau dari video itu kelihatannya jantan, masih anak remaja,” sambungnya.

Secara internasional, Harimau Jawa telah dinyatakan punah sejak 1980-an.

Subspesies harimau ini masuk dalam status Extinct atau Punah oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resources Red List (IUCN).

Klaim ini juga diperkuat oleh pengakuan Conservation on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora (CITES) saat menggelar pertemuan di Fort Lauderdale, Florida, Amerika Serikat, pada Desember 1996.

Harimau Jawa belum punah

Perburuan Harimau Jawa di Malingping, Banten, pada Mei 1941. (Foto: Wikimedia Commons/Tropenmuseum/H.Bartels)

Dikutip dari Mongabay, Harimau Jawa pernah berhabitat di Jampang Kulon, Taman Nasional Ujung Kulon, Gunung Pangrango, Yogyakarta, Probolinggo, Blitar, Banyuwangi, Tulungagung, hingga Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur.

Terpisah, Peneliti Mamalia dan Pengelolaan Satwa Liar Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Profesor Gono Semiadi memberikan tanggapannya tentang dugaan bahwa Harimau Jawa belum punah.

Katanya, awalnya suatu jenis satwa dikatakan punah bila selama 50 tahun tidak pernah dilihat lagi di alam liar.

Kini, konsep punah secara ilmiah telah bergeser dari suatu kategori generik yang berlaku umum menjadi lebih menekankan pada keyakinan ilmiah.

“Faktanya adalah, hingga kini tidak terdeteksi keberadaan Harimau Jawa. Dan secara ilmiah, saya juga mengatakan, Harimau Jawa di wilayah Ujung Kulon memang sudah tidak ada,” ujar Gono dikutip dari Mongabay.

Gono mengklaim hingga saat ini belum ada bukti temuan fisik yang memperlihatkan keberadaan Harimau Jawa. Secara teori, katanya, tidak ada temuan terbaru dari habitat-habitat yang ada dan dikaitkan dengan daya jelajah Harimau Jawa.

“Ini semakin meyakinkan, terutama saya pribadi, bahwa Harimau Jawa memang sudah tidak ada,” pungkasnya.

(NB)

Nanda Fahriza Batubara

Menolak rontok di negeri sendiri. Penulis merupakan alumni Departemen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU). Semasa kuliah sempat menjabat Ketua Umum Gemapala FIB USU meski tidak sampai satu periode. Huh.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *