Shelter

Tentang Manajemen Perjalanan dan Peristiwa Lima Pendaki Gunung Marapi yang Sempat Tersesat

By  | 

Penarimba.com – Lima pendaki Gunung Marapi, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, yang sempat tersesat dan hilang kontak, kini telah ditemukan.

Berdasarkan keterangan dari Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam Muhammad Lutfi Ar, kelima pendaki tersebut tersesat ketika hendak turun dari gunung pada Senin (22/6/2020).

Lutfi mengatakan, kelimanya sempat memilih jalur yang berbeda dengan jalur yang dilalui saat mendaki.

Di sisi lain, diketahui bahwa kelompok tersebut tidak membawa perbekalan.

“Jadi lima pemuda itu naik dan turun melewati jalur berbeda. Diinformasikan pula kelima orang ini dalam perjalanan turun tanpa perbekalan,” kata Lutfi dikutip dari pikiran-rakyat.com, Selasa (23/6/2020).

Pendaki Gunung Marapi tersesat

Foto lima pendaki Gunung Marapi tersesat. (Foto: Facebook Den Bagus Arga)

Berdasarkan informasi yang diperoleh, kelima pendaki yang tersesat mendaki Gunung Marapi itu berasal dari Nagari Bukik Batabuah, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Mereka adalah Nuri (18), Ridho (19), Halim (19), Fauzi (19) dan Robi (19).

 

KRONOLOGIS LIMA PENDAKI GUNUNG MARAPI TERSESAT

Dikutip dari Antara, peristiwa lima pendaki Gunung Marapi tersesat bermula pada Sabtu (20/6/2020) lalu.

Mereka dilaporkan tiba di puncak pada Senin (22/6/2020). Kala itu, kelima pendaki ini bertemu dengan kelompok pendaki yang lain.

Mereka sempat turun bersama sebelum akhirnya memilih jalur yang berbeda.

Kelompok pendaki yang mereka temui memilih turun melalui jalur Koto Baru. Sedangkan kelima pendaki yang akhirnya sempat tersesat, memilih jalur Badorai.

Pada Senin (22/6/2020) sekira pukul 15.00 WIB, satu antara lima pendaki memberi kabar telah tersesat kepada anggota komunitas pecinta alam setempat via pesan singkat.

Selang beberapa waktu kemudian, kelimanya hilang kontak.

“Namun setelah sampai di sana tidak ditemukan jejak sama sekali,” kata Lutfi.

Setelah melakukan pencarian lebih dalam, petugas akhirnya berhasil menemukan kelima pendaki tersebut.

Saat ini, kelimanya sudah dievakuasi dari Rimbo Kalam menuju rumah masing-masing.

Mantan Ketua Gemapala Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Frans Julio mengatakan, peristiwa pendaki Gunung Marapi tersesat merupakan pengingat pentingnya manajemen perjalanan yang matang.

Oleh sebab itu, para pendaki memang sangat dianjurkan untuk mempelajari dan memahami teknik manajemen perjalanan, khususnya bagi para pemula.

“Ini merupakan pelajaran, manajemen perjalanan tidak boleh terabaikan. Itulah makanya ada pendidikan dasar,” kata Frans.

Dalam dunia pendakian, kata Frans, manajemen perjalanan diartikan sebagai rencana menyeluruh dari suatu perjalanan.

Mulai waktu, latihan fisik, perlengkapan dan peralatan hingga teknik packing harus diketahui dan ditentukan secara matang.

“Jadi bukan suatu hal yang sepele. Sedangkan dengan manajemen yang matang saja belum tentu selamat, apalagi yang tidak,” kata Frans.

Seperti diketahui, Gunung Marapi, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, sempat ditutup sejak beberapa waktu lalu akibat virus corona.

Baru-baru ini, pemerintah menarik larangan tersebut.

(IP)

Ido Panukunan Sinaga

Kerap menyemangati diri bahwa tinggi badan bukanlah segalanya. Penulis merupakan mahasiswa semester akhir Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU). Pernah menjabat Ketua Umum Gemapala FIB USU Periode 2018-2019.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *