Video & Galeri

Setahun Lalu Masih Menggemaskan, Dua Anak Harimau Sumatera di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary Kini Tampil Sangar

By  | 

Penarimba.com – Setahun lebih tiga bulan sudah berlalu. Dua ekor anak Harimau Sumatera di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary, Desa Batunanggar, Kecamatan Batang Onang, Padanglawas Utara, Sumatera Utara, kini tampil sangar.

Dua ekor Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) berjenis kelamin jantan dan betina itu merupakan anak dari Gadis, induk harimau yang kini berusia sekitar sembilan tahun.

Ia melahirkan kedua anaknya itu pada Sabtu (8/12/2018) lalu. Mereka bertiga menghuni kandang adaptasi Sanctuary Harimau Barumun Nagari Wildlife Sanctuary.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI BBKSDA Sumut Darmawan mengatakan, kedua anak harimau itu tumbuh dengan baik. Bahkan, ukuran tubuh keduanya sudah lebih besar ketimbang sang induk.

“Mereka tumbuh dengan sehat, saat ini masih dalam kandang adaptasi bersama induknya. Perkiraan jenis kelamin keduanya jantan dan betina. Yang betina sudah sebesar induknya, jantan bahkan lebih besar lagi,” ujar Darmawan kepada Penarimba.com, Rabu (11/3/2020).

 

Kabar baik kembali datang dari Barumun Nagari Wildlife Sanctuary pada penghujung 2018 lalu.

Dua ekor Harimau Sumatera di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary, Desa Batunanggar, Kecamatan Batang Onang, Padanglawas Utara, Sumatera Utara, lahir.

Keduanya dilahirkan oleh induk harimau bernama Gadis, harimau betina yang kini diperkirakan berumur delapan tahun.

Harimau Sumatera di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary

Dua anak Harimau Sumatera di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary, Desa Batunanggar, Kecamatan Batang Onang, Padanglawas Utara, Sumatera Utara, lahir pada akhir 2018 lalu. (Foto: Nanda Fahriza Batubara)

Kelahiran dua ekor harimau kebanggaan Sumatera ini tidak hanya memberi kabar segar. Namun, terdapat sisi lain dari kisah hidup sang induk, Gadis.

Gadis merupakan harimau betina yang diselamatkan dari jeratan warga. Ia ditemukan di Mandailing Natal pada 2016 lalu.

Akibat jeratan itu, kaki kanan bagian depan Gadis diamputasi. Kini, Gadis hanya memiliki tiga kaki. Hal inilah yang menyebabkannya kesulitan berjalan.

Sementara sang jantan, Monang, merupakan harimau yang dievakuasi dari Desa Parmonangan, Kecamatan Dolok Panribuan, Simalungun, pada 2017 lalu.

Harimau Sumatera merupakan satwa yang dilindungi undang-undang. Jumlahnya yang kian menurun membuat satwa ini masuk ke dalam golongan Critically Endangered atau terancam punah.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, jumlah Harimau Sumatera diperkirakan hanya 603 ekor di alam liar.

Harimau-harimau ini tersebar dalam 23 landscape di Sumatera yang jumlahnya masing-masing satu hingga 185 individu.

Penghitungan dilakukan dengan metode Population Viability Analysist.

Pada 2018 lalu, Barumun Nagari Wildlife Sanctuary sudah beberapa kali memberi kabar baik terkait keberlangsungan hidup satwa terancam punah.

Selain lahirnya dua ekor Harimau Sumatera, ada tiga ekor Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatranus) yang juga melahirkan.

Ketiga gajah yang melahirkan itu adalah Dini, Carry dan Poppy.

Dini melahirkan gajah betina bernama Fitri pada Sabtu (16/6/2018). Fitri adalah nama yang diberikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya.

Selanjutnya, Carry melahirkan gajah berjenis kelamin jantan pada Selasa (17/7/2018).

Kemudian pada Minggu (29/7/2018), gajah bernama Poppy juga melahirkan gajah betina.

Saat ini, terdapat sekitar 15 ekor Gajah Sumatera di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary.

“Tahun ini juga ada tiga ekor gajah yang melahirkan,” tutur Darmawan pada 2018 lalu.

Sanctuary Harimau Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS) terletak di Kecamatan Batang Onang, Padanglawas Utara, Sumatera Utara.

BNWS dibangun oleh BBKSDA Sumut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta berkerja sama dengan Yayasan Persumuhan Bpdichita Mandala Medan pada 2016 lalu.

Sanctuary Harimau BNWS dibangun untuk tujuan merehabilitasi harimau korban konflik agar dapat kembali dilepasliarkan ke habitat aslinya.

(NB)

Nanda Fahriza Batubara

Menolak rontok di negeri sendiri. Penulis merupakan alumni Departemen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU). Semasa kuliah sempat menjabat Ketua Umum Gemapala FIB USU meski tidak sampai satu periode. Huh.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *