Video & Galeri

Tentang Benjamin, Harimau Tasmania Terakhir yang Mati 84 Tahun Lalu

By  | 

Penarimba.com – Setelah tahun lalu sempat heboh karena diduga muncul kembali, Harimau Tasmania (Thylacinus cynocephalus) kini kembali menjadi perbincangan. Sepekan lalu, National Film and Sound Archive of Australia (NFSA) merilis video tentang Harimau Tasmania terakhir bernama Benjamin.

Benjamin diklaim sebagai Harimau Tasmania yang terakhir hidup di bumi sebelum spesies itu dinyatakan punah pada 1936 silam.

Video berdurasi 21 detik itu dinilai sangat berharga. Sebab, diperkirakan tidak lebih dari selusin video yang berhasil merekam kehidupan Harimau Tasmania.

Semua video yang ada direkam di dua tempat, yakni di Kebun Binatang Beaumaris Hobart dan di Kebun Binatang London.

“Kelangkaan cuplikan Harimau Tasmania membuat setiap detik gambar bergerak benar-benar berharga. Kami sangat bersemangat untuk membuat rekaman yang baru didigitalkan ini tersedia untuk semua orang secara online,” tulis kurator NFSA, Simon Smith.

Tonton videonya:

Rekaman Harimau Tasmania terakhir bernama Benjamin diperoleh NFSA dari para peneliti Tasmanian Tiger Archives, yakni Branden Holmes, Gareth Linnard dan Mike Williams.

Penggalan video dari film berjudul Tasmania the Wonderland itu memperlihatkan Benjamin sedang mondar-mandir dalam kandangnya yang berada di Kebun Binatang Beaumaris Hobart, Tasmania, Australia.

Pada video itu, terlihat seorang Zoo Keeper bernama Arthur Reid dan seorang rekannya sedang mencoba berinteraksi dengan Benjamin.

Video Benjamin ini direkam pada 1935, lebih dari 12 bulan setelah Harimau Tasmania terakhir yang berhasil difoto pada Desember 1933.

Sekitar 18 bulan setelah video itu direkam, Benjamin ditemukan mati di kebun binatang.

Harimau Tasmania terakhir bernama Benjamin. (Foto: NFSA/Tasmanian Tiger Archives)

Harimau Tasmania terakhir bernama Benjamin. (Foto: NFSA/Tasmanian Tiger Archives)

Pada 7 September 1936, spesies itu dinyatakan punah. Meski demikian, tidak semua peneliti sepakat dengan hal ini. Sama halnya seperti Harimau Jawa, sejumlah saksi mengaku masih pernah melihat keberadaan hewan itu.

Menurut NFSA, narator pada video itu tidak dikenal. Ia menceritakan tentang kelangkaan Harimau Tasmania kala itu.

Video tersebut juga dianggap sebagai satu-satunya film bersuara tentang Harimau Tasmania yang diproduksi secara profesional untuk penonton.

Pembuat film Tasmania the Wonderland diduga adalah Sidney Cook (1873-1937).

Selama kunjungannya ke Tasmania untuk membuat film pada awal 1935, Cook memperoleh bantuan dari Pemerintah Tasmania untuk menghasilkan ‘travelie talkie’ yang ia rencanakan untuk diputar melalui jaringan kontak sinema.

Tiba di Hobart pada 17 Januari 1935, perjalanan Cook membawanya berkeliling pulau selama tiga bulan. Ia melakukan syuting di banyak lokasi, termasuk Hobart, Launceston, bagian dari pantai barat, Devonport, Burnie dan Scottsdale.

The Age melaporkan bahwa Cook menayangkan film Tasmania-nya di Royal National Exhibition yang diadakan di Brisbane, September 1935.

Cook adalah pelopor pembuatan film Australia yang tidak terkenal, yang pernah bekerja di Departemen Limelight Salvation Army. Tasmania the Wonderland mungkin merupakan karya terakhirnya.

Tak lama setelah membuat video tentang Harimau Tasmania terakhir bernama Benjamin, Cook kemudian meninggal dunia pada 23 Maret 1937 karena sakit.

Kembali tentang Harimau Tasmania. Harimau ini dianggap sebagai persilangan antara serigala, rubah dan kucing. Itulah yang diduga menyebabkan harimau jenis ini memiliki bentuk tubuh jauh berbeda dari harimau jenis lain.

Harimau Tasmania

Ilustrasi Harimau Tasmania. (Foto: The Smithsonian Institution/Public Domain/Ej Keller)

Perbedaannya lainnya adalah loreng kulit. Jika pada harimau jenis lain loreng tersebar pada seluruh bagian tubuh, Harimau Tasmania hanya memiliki loreng di bagian belakang punggungnya.

Ia memiliki rahang yang lebar dan kuat serta memiliki 46 gigi yang tajam.

Pada 2019 lalu, Departemen Industri Primer, Taman, Air, dan Lingkungan Tasmania (DPIPWE) merilis sebuah dokumen yang merinci delapan penampakan Harimau Tasmania kurun tiga tahun terakhir.

(NB)

Nanda Fahriza Batubara

Menolak rontok di negeri sendiri. Penulis merupakan alumni Departemen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU). Semasa kuliah sempat menjabat Ketua Umum Gemapala FIB USU meski tidak sampai satu periode. Huh.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *